Forum Inspirasi

"Small step for Big Destination…!

Sebuah Perenungan

Posted by jameswayne pada 20 April, 2008

Oleh Eko Hardjanto

Betapa risaunya hati terbuai dunia, sering kali ia membuat lupa. Kesibukan tiada henti, tak berkurang setiap hari. Betapa lelah diri ini…

Malam itu setelah semua cinta tertidur, kucoba merenung tentang sebuah kehidupan yang telah dan sedang aku jalani. Tanpa rencana aku dengarkan sebuah lagu yang cukup membuatku tersentuh. Lagu itu tenang dihiasi tampilan gambar kematian. Dalam keheningan malam aku terdiam merenungkan salah satu baitnya.

Each soul has its given date who knows tomorrow could be your day Come on my brothers let’s pray Decide now, do not delay

Kematian, mungkin besok datang menjemput, siapa yang tahu. Cukuplah itu menjadi pengingat walau sejenak. Zikrul maut memang cara mujarab untuk sejenak melupakan hiruk pikuk kesibukan dunia. Walau bukan satu-satunya cara, namun melihat jasad tak berdaya terbalut kafan sering kali membuat hati ini tertunduk.

Sekian kali aku melihat kematian, sekian kali melewati pekuburan. Di liang lahat sang jasad sepi sendiri, gelap dalam perut bumi. Cukuplah itu menjadi pengingat, membatasi canda kesenangan dunia.

Hidup ini akan terus berlangsung hingga waktu yang ditetapkan. Di antaranya silih berganti kebaikan dan keburukan. Meluangkan waktu untuk merenung serta mengingat kematian selalu memberikan semangat baru untuk menjaga kebaikan tetap di atas keburukan. Upaya menghisab diri merenungi amal dan dosa senantiasa menumbuhkan energi untuk menjaga diri agar jauh dari keterpurukan.

Sungguh keheningan selalu menjadi saat yang tepat untuk merenung, karena ia adalah lawan dari hiruk pikuk yang melupakan dan melalaikan. Rasulullah mengajarkan manusia untuk merenung dalam keheningan ziarah kubur. Sebagaimana Kalam Allah dalam Al-Muzammil menegaskan heningnya malam sebagai saat untuk sujud mengadu dan menghisab diri.

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).

Syukur kepada-Mu ya Rabbi atas kesempatan merenung malam ini. Detik-detik perenungan sungguh bagaikan setetes embun yang kembali menyegarkan jiwa. Ia bagaikan penahan laju kesibukan dunia untuk sejenak menghela nafas menatap arah, untuk sejenak membuang lupa.
***

3 Tanggapan to “Sebuah Perenungan”

  1. ridho said

    ketika mendengar kematian semua organ tubuh tertunduk,,dan berkata untuk apakah aku selama ini di gunakan,,

  2. cinta minyak said

    Official Website PERTAMINA

    like this article ^_^, tapi stlh melihat kematian seseorang biasanya beberapa saat kemudia lupa lagi n kembali ke habit yang dulu, so cm ingat sesaat, lalu ada kabar sesorang meninggal lalu ingat dan lalu lupa kembali

  3. Andiafif said

    Saat malam telah senyap mata tak mampu terpejam, renungan malam adalah wahana yang tepat untuk sesaat evaluasi diri apa yang telah kita lakukan disiang hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: