Forum Inspirasi

"Small step for Big Destination…!

Kiat Bisnis Jaya Suprana

Posted by jameswayne pada 20 April, 2008

Mengapa durasi sepak bola hanya 45 menit sebelum pindah lapangan?. Menurut Jaya Suprana, cuma ada satu bola yang ditendang. Tetapi di lapangan ada 22×2 “bola” yang dilarang tertendang. Maka kalau satu bola dihargai 1 menit, seluruh “bola” akan membutuhkan waktu 45 menit.

Sekitar enam tahun lalu (2001) saya menghadiri undangan PT INDOSAT TBK untuk acara sertifikasi dari kebijakan mutu ISO 9001 menjadi ISO 9002, sekalian mengumumkan mergernya 001 dengan 008 dan beberapa produk Indosat lainnya. Pulangnya, kami para hadirin diberi kartu perdana IM3 – yang pada waktu itu harga  kartu perdana untuk handphone, adalah sesuatu yang menguras kantong.

Salah satu acaranya adalah empat puluh lima menit bersama Jaya Suprana, yang judulnya rada unik yaitu “Kiat Bisnis dalam Krisis“.

Pemilik Jamu Jago ini memaparkan bahwa, secara hitungan ilmu ekonomi tidak akan ada  bisnis yang berjalan di negeri ini, karena sudah carut marutnya perekonomian kita.

Ketika krisis orang Malaysia akan  mengatakan sebuah peribahasa “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga“, lalu dengan gaya cadelnya, lelaki berkepala plontos dengan kegemaran memakai suspender menambahkan bahwa krisis di Indonesia “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Dikejar Anjing Gila, masuk Got, Luka, Kena Tetanus.”

Pendek kata komplit..plit.

Baru saja orang berpengharapan akan perbaikan ekonomi, WTC di bom, dan lagi-lagi imbasnya terkena Jakarta.

Lalu teman baik Gus Dur ini bercerita  ia berada di sebuah Hotel di Jakarta ketika peristiwa Mei 1998 terjadi, selama 3 hari ia dalam keadaan ketakutan sampai-sampai untuk kembali ke Semarang, ia harus rela meringkuk duduk dibelakang mobil Van sambil ditutupi karung menghindari “sweeping” demi untuk menyelamatkan dirinya yang terlahir sebagai etnis target untuk dibunuh.

Sesampainya di Semarang, dikumpulkannya semua karyawan Industri Jamu Jago, dan mengatakan bahwa kemungkinan besar Industri nenek moyang yang dibangun 1918 ini akan tutup usia pada ulatah ke 80-nya. Dan luar biasanya, seluruh karyawan seakan menjadi satu secara emosional lalu mereka bekerja lebih disiplin, dan lebih efisien. Salah satu hasil terobosan dimasa krisis adalah usulan membuat jamu untuk anak kecil. Jujur saja ini keblinger sebab mana ada anak kecil suka jamu, baru dengar namanya saja pastilah mereka komentar “ah nggak mau, pahit.

Bahkan Jaya sendiri mengaku tidak yakin produknya akan diterima masyarakat. Maka jamu tersebut hanya di targetkan penjualannya sebanyak 50.000 bungkus per bulan.Padahal dalam hati mereka tahu begitu produk dilancarkan maka Jamu Jago akan gulung tikar.

Apa lacur?  Jamu ternyata ini disambut hangat di pasaran, dari 50.000 ternyata permintaan pasar menjadi 5 juta bungkus perbulan, dan Omset Jamu Jago naik 400% pada saat itu.

Bukan Jaya kalau tidak bisa berseloroh,  “Untungnya jamu ini dikeluarkan setelah peristiwa Mei 1998, coba kalau sebelumnya sudah dipasarkan dan diminum para Huruharawan dan Huruharawati Mei’98, mungkin bisa 30 hari 30 malam Jakarta menjadi lautan api, maklum staminanya naik bagus akibat jamu.

Sewaktu bisnisnya anjlog, Jaya pernah meminta kepada Tuhan sekaligus berjanji akan memberikan sesuatu, padahal ia tahu Tuhan tidak butuh pemberian manusia. Dalam permintaannya ia mengatakan “Tuhan, kalau sampai Januari 1998, jamu jago bisa survive, saya akan mengucapkan terimakasih, dan kepala saya akan saya gunduli.

Sejak itu, pria yang tidak pernah berolah raga ini selalu menggunduli kepalanya. Ia menceritakan bahwa kepalanya di gunduli di Tibet. Satu peristiwa yang mengesankan terjadi begitu menginjak Airport Lhasa, ia hampir pingsan sebab oksigen disana  sangat tipis, untung ada penjual oksigen yang segera  mengasongkan dagangannya sehingga ia bisa terselamatkan.

Disini ia seperti mendapat pencerahan bahwa “Selama Masih Bisa Bernafas, Selama Itu Masih Bisa Berbisnis.

Akhirnya, Jaya meringkaskan kiat bisnis menjadi “5 i” yaitu.

I-nformatif, I-ntelegent, I-nisiatif, I-ntuitif dan I yang ke lima adalah I(nsya Allah). Jaya menekankan “I-kelima” yang dirasakan sekali keberadaanya oleh Jaya ketika menghadapi kesulitan dalam bisnisnya.***

Satu Tanggapan to “Kiat Bisnis Jaya Suprana”

  1. cinta minyak said

    keren postingannya, saya mau berbisnis tapi msh bingung bidang apa yang cocok sesuai dengan kepribadian saya

    ” Buka ini Official Website Pertamina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: